Dunia marketing mengenal yang namanya Marketing Mix atau dikenal dengan istilah 4P. Istilah tersebut merupakan kepanjangan dari Product, Price, Place and Promotion.

Maksudnya adalah untuk bisa memasarkan suatu produk jasa dan layanan dengan hasil maksimal (profit tinggi dengan cost rendah untuk jangka waktu lama) setiap usaha marketing disarankan untuk menerapkan strategi Marketing Mix ini.

Begitu pula di dalam penghayatan ibadah kita sebagai orang Muslim, di mana kita bisa menggunakan analogi Marketing Mix di dalam “memasarkan dan menjual” produk ibadah kita kepada Allahu Ta’ala. Meskipun istilah memasarkan dan menjual sebenarnya kurang tepat dan tidak pernah dipakai, namun target dari “memasarkan dan menjual” bisa dikatakan memiliki karakteristik yang mirip namun berbeda esensinya.

Jika untuk urusan bisnis, target pemasaran dan penjualan adalah profitabilitas, namun di dalam urusan ibadah maka target “pemasaran dan penjualan” kita adalah ridho Allahu Ta’ala serta pengakuan dari Yang Maha Kuasa mengenai kualitas Islam, Iman, dan Ihsan kita di dalam beribadah, sedemikian hingga kita akan mendapatkan “ijasah” dari Allahu Ta’ala bahwa diri kita adalah hambaNya yang mukmin.

Sebagaimana konsep Marketing Mix, strategi Produk menjadi perhatian pertama. Hal terpenting dari unsur produk adalah masalah kualitas. Jika “standar kualitas” suatu produk sudah bisa diterima dan dipertahankan, maka selanjutnya adalah  kuantitas produk yang perlu ditingkatkan secara bertahap.   

Demikian pula dalam beribadah, kualitas ibadah kitalah yang perlu mendapatkan perhatian pertama sebelum kita meningkatkan kuantitas dari amal ibadah.  

Sebagaimana banyak disampaikan oleh para alim ulama, bahwa ibadah yang khusuk memiliki derajat beberapa tingkat di sisi Allah. Setiap satu sholawat yang diucapkan dengan hati lalai mendapatkan balasan 10 kali lipat, sedangkan jika dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan hati yang khusuk maka balasannya menjadi hitungan tak terhingga. Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam menyatakan betapa urgen-nya untuk memperhatikan urusan hati.

Jadi, di dalam pelaksanaan ibadah, prioritas pertama adalah terkait dengan kondisi hati. Untuk itu, siapkan dan perhatikan kondisi hati kita masing-masing pada saat sebelum, selama dan sesudah pelaksanaan ibadah.

Kondisi Hati Sebelum Ibadah

Sebagaimana telah kita pahami tentang prinsip “Inna a’malu binniyyat” Semua amal tergantung niatnya. Oleh karena itu, usahakan sebelum memulai beribadah usahakan untuk bersikap tenang, takzim, merendahkan diri dan hati dan katakanlah kepada diri sendiri bahwa saat ini anda sedang menghadap di hadapan Allah yang bisa membalikkan nasib anda detik itu juga hanya dengan “Kun” maka “Fayakun”. Idealnya bermunajat kepada Allah dan sampaikan maksud anda secara hormat. Rendahkan diri & pribadi kita, serendah-rendahnya di hadapan Allah. Jika maksud sudah diucapkan, maka kita siap melaksanakan ibadah tersebut.

Kondisi Selama Dalam Ibadah

Fokus dan konsentrasi adalah khusuknya hati. Bagaimana caranya ? Konsentrasi dan fokuslah pada apa yang anda lakukan dan anda ucapkan. Pastikan setiap saat anda melaksanakan ibadah tersebut sesuai dengan tuntutan yang benar. Bila belum faham, tanyalah kepada yang lebih faham. Pelaksanaan ibadah selalu mengandung da unsur, yaitu pelaksanaan lahiriah dan batiniah. Prosedur lahiriah lebih mudah untuk dipelajari sebagaimana tuntutan syariah yang sangat jelas langkah demi langkah dijelaskan. Namun, tuntutan ibadah hati dalam pelaksanaan ibadah masih jarang yang memperhatikannya.

Berikut adalah kisi-kisi ibadah hati yang perlu kita perhatikan:

KONDISI HATI SARAN PERBAIKAN
Konsentrasi terganggu, teringat dengan urusan duniawi. Segera lanjutkan “ingatan” yang saat itu muncul dipikiran kita dengan istighfar dan ucapan “ Ya Allah”Apabila kita sudah siap siaga mengantisipasi menghadapi konsentrasi yang terpecah, maka istighfar dan zikrullah akan otomatis muncul. Jika hal ini bisa kita jaga dan pertahankan disetiap pelaksanaan ibadah, maka akan terbiasa bermunujat di dalam pelaksanaan ibadah kita.Ciri-ciri kita sudah terbiasa dengan hal ini, sebagai contoh “ibadah sholat”. Kita akan cenderung lebih lama dalam melaksanakannya, jika kita sedang tidak berjamaah / sholat sunah. Hal ini disebabkan “asyik sholat, hingga lupa waktu”. Sama halnya seseorang yang menekuni hobinya hingga lupa waktu.
Timbul perasaan takabur, pamer dan sombong.Khusus untuk hal ini, perlu diprioritaskan untuk dikendalikan didalam hidup kita sehari-hari, mengingat hal ini adalah penghambat utama kesuksesan (kebahagiaan dan atau kesejahteraan)  kehidupan dunia-akhirat. Segeralah, berhenti sejenak dan ucapkanlah istighfar sebanyak-banyaknya sehingga perasaan tersebut hilang di dalam hati kita. Hal ini bisa dilaksanakan jika kita seringkali memonitor dan mengevaluasi diri kita sendiri khususnya terhadap sikap hati yang muncul. Kita perlu mempelajari kondisi-kondisi hati kita sehingga kita akan mengenali “ciri-ciri sikap hati” kita pada saat takabur / merasa hebat, atau pada saat pamer atau pada saat sombong.Ciri-ciri jika kita sudah mulai bisa menguasai hal ini adalah jika pada saat pelaksanaan ibadah seringkali kita tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita, atau suara-suara disekitar kita menjadi tidak jelas terdengar. Dengan kata lain, pelaksanaan ibadah kita tidak terganggu oleh situasi / keadaan / suara yang terjadi di sekitar kita.

 

Kondisi Hati Sesudah Pelaksanaan Ibadah

Kondisi hati yang perlu dijaga segara sesudah pelaksanaan ibadah yang utama adalah rasa bersyukur. Rasa syukur perlu dikedepankan pertama kali mengingat hanya karena hidayah Allah lah sehingga kita bisa melaksanakan ibadah tersebut dengan baik. Rasa syukur di dalam hati inilah yang membukakan hidayah-hidayah selanjutnya.

Selain rasa syukur terhadap hidayah Allah, rasa syukur yang kedua adalah berupa “pengakuan” diri pribadi kita bahwa ibadah tersebut bisa terlaksana berkat “Kehendak dan Kuasa Allah” semata. Ini adalah prinsip dari “penghambaan diri” secara total (ubudiyyah), mengingat fase tertinggi ibadah di dalam Islam adalah derajat seorang hamba Allah.

Derajat ini bukan karena pengakuan diri sendiri atau dari orang lain, namun pengakuannya berasal langsung dari Allahu Ta’ala dan disaksikan oleh para Malaikat. Sedangkan gelar waliyullah dengan berbagai macam tingkatan di dalamnya adalah semata-mata “penunjukkan atau penugasan yang diberikan” (Job Assignment) oleh Allah kepada hamba-Nya tadi.

Pada saat kita sudah mendapatkan “pengakuan sebagai hamba” oleh Allah maka artinya diri kita sudah sah menjadi “karyawan” Nya Allah. Secara sederhana dapat dianalogikan seperti itu, berhak dapat “fasilitas” selama kita hidup dan dan berhak mendapatkan “pensiun” sesudah kita meninggal.

Allahualam bissawab.

 

Kuantitas Ibadah

Jika secara kualitas sudah sesuai dengan standar kualitas “SNI”nya Allah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullahu Shalallahu’alaihi wassalam, maka selanjutnya secara perlahan kita tingkatkan kuantitas ibadah kita sedemikian hingga mencapai tingkat kapasitas produksi sebagaimana target “Tidak Kuciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu” dan kita wujudkan usaha kita dalam beribadah untuk memenuhi pernyataan kesanggupan kita sebagaimana janji kesanggupan kita yang berbunyi “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya semata untuk Tuhan Pemilik Semesta Alam”.

Janji kesanggupan kita itu, selain menjalankan ibadah wajib dan sunah, hanya mungkin diwujudkan jika kita melaksanakan prinsip manajemen kehidupan yang tepat. Manajemen kehidupan yang dimaksud adalah “Selalu zikir kepada Allah pada waktu berdiri, duduk dan berbaring”.

Metode manajemen lainnya yang bisa kita gunakan selain tersebut di atas adalah “Berdzikir sebanyak-banyaknya”. Berapa banyak jumlah yang tergolong sebanyak-banyaknya ? Sejumlah tarikan dan hembusan nafas.

Jika kita belum mampu mewujudkan yang tersebut di atas, jangan kawatir. Allah dengan Sifat RahimNya memberikan fasilitas kemudahan kepada kita dengan firmanNya QS 64:16 “Bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu,”. Namun jangan pernah berpikir apalagi mencoba menyalah gunakan fasilitas ini untuk “beribadah sesuka hati dan menganggap sepele pelaksanaan suatu ibadah”. Semoga kita dijauhkan dari sifat yang demikian. Amiin Ya Allah.

Secara perlahan-lahan, perbaiki apa yang masih salah, luruskan segala sesuatu yang masih bengkok, sempurnakanlah apa yang kurang, dari amal ibadah kita masing-masing. Semoga Allah memberikan hidayah dan kekuatan untuk bisa melaksanakannya. Amiin Ya Robbal Alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.