Penelaahan teks adzan ini bermula keprihatinan saya pribadi mengenai kurikulum pendidikan agama di sekolah saat ini. Selain jamnya sangat minim, kurikulumnya juga kurang penekanan pada aspek penghayatan batiniah dan cenderung fokus pada aspek pengetahuan yang notabene ada di alam pemikiran.

Sementara Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang merupakan Nabiyyil Ummi menekankan pada aspek penghayatan sedangkan pengetahuan sekedar alat / kendaraan semata. Karena kalau aspek pengetahuan yang diutamakan maka pada saat itu perintah yang turun adalah Iqra bil kitab tetapi kenyataannya adalah Iqra bismi rabbikalladzi khalaq. “Membaca melalui aspek Ketuhanan”

Nah setelah merenung dan bermunajat, terbetik di dalam hati mengenai teks adzan yang selalu dikumandangkan sebelum shalat. Saya meyakini bahwa apa-apa yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW selalu ada maksud dan akan membawa hal-hal yang bermanfaat.  Termasuk salah satunya bagaimana proses dan urutan pendidikan agama sebaiknya di laksanakan. Penggambaran berikut ini ada kaitannya dengan bagaimana kita mempelajari agama Islam sebagaimana dimaksudkan di dalam teks Adzan.

Menurut riwayat yang pernah saya baca, teks adzan diturunkan pada saat munculnya pertanyaan dari salah satu sahabat kepada Rasulullah SAW mengenai “penanda” / hal yang dijadikan tanda masuknya waktu sholat. Waktu itu Rasulullah SAW diam sejenak dan berdoa kepada Allahu Ta’ala agar diberikan petunjuk.

Kemudian datang Malaikat Jibril AS yang mengajarkan kepada Rasulullah SAW teks Adzan sebagai enanda waktu shalat bagi umat Islam. Sahabat Bilal (orang negro bekas budak) yang dipilih oleh Rasulullah SAW untuk mengumandangkan Adzan pertama kali. Riwayat lain menceritakan bahwa sahabat Bilal ra, ini lah yang mendahului Rasulullah masuk ke dalam surga beberapa langkah. Hal ini disebabkan sahabat Bilal ra ini selalu lebih dulu datang di masjid dibandingkan Rasulullah SAW dalam rangka mengumandangkan adzan.  Allahu Akbar

Adapun teks Adzan yang sudah akrab ditelinga kita adalah sbb:

Allahu Akbar 4 x (Allah Maha Besar KeagunganNya)

Asyhadu ala ilaha ilallah 2x (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah)

Asyhadu ana Muhammada Rasullullah 2x (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah)

Hayya ala Shola 2 x (Hidupkanlah / Dirikanlah Sholat)

Hayya ala falaah 2 x (Hidupkanlah / Raihlah Kemenangan)

Allahu Akbar 2 x (Allah Maha Besar KeagunganNya)

La ilaha ilallah 1 x (Tiada Tuhan selain Allah)

Setelah beberapa kali berdzikir dan bermunajat akhirnya diberikanlah pemahaman sebagaimana berikut:

Takbir 4 x, di dalam menghayati Islam dan jalan Ilahi, hal pertama yang wajib kita usahakan dan kita mohonkan kepada Allah adalah pemahaman hingga ke dalam dasar hati kita terdalam hingga ke seluruh urat dan syaraf bahwa Kebesaran Allah meliputi Timur, Barat, Utara, dan Selatan. 

Pemahaman ini dirasakan di dalam hati sedemikian hingga dalam segala kejadian yang kita hadapi / alami, minimalnya akan memunculkan suatu ucapan dalam hati atau pikiran kita “YA Allah….ada apa …kenapa..bagaimana.. atau istighfar, takbir, tasbih dsb sebelum munculnya hal lain….

Intinya adalah hati, perasaan dan pikiran kita selalu “ter-connect” kepada Allah sebelum “ter-connect”  kepada hal lainnya.

Nah apabila “Hidayah” tersebut sudah diberikan, maka secara otomatis “pernyataan kesaksian” akan dengan mantap dan tanpa ragu-ragu mengenai ke-esa-an Allah Ta’ala akan muncul dengan sendirinya. Hal ini perlu diwujudkan hingga ke tingkat LAHIR DAN BATIN.

Hal inilah makna “Asyhadu ala ilaha ilallah” diucapkan 2 kali. Lahir dan Batin menyakini Tauhid Allah. Perasaan mantab dan tidak ada ragu-ragu ini juga merupakan Hidayah bukan rekayasa pribadi masing2 individu. Karena akan diikuti dengan “ujian-ujian keimanan” yang ngga main-main.

Apabila “hidayah” mengenai Tauhid ini mulai dirasakan, maka Hidayah pengakuan kerasulan Muhammad SAW akan dengan sendirinya muncul. Hal ini ditandai dengan perasaan suka dan keharuan yang mendalam jika disebut nama Muhammad SAW.

Pengakuan ini juga dinyatakan dua kali artinya Lahir dan Batin. Batinnya merasa suka dan ada rasa keharuan lahirnya mungkin menyebabkan kepala tertunduk, mata berkaca-kaca dan bahkan ada yang hingga meneteskan air mata. Jika sudah sampai ke tahap itu, maka secara otomatis akan muncul perasaan marah jika mendengar ada orang yang menyebut Nama Muhammad SAW tanpa ada rasa penghormatan. Perasaan ini bukan rekayasa.

Semua hidayah di atas tersebut, yang akan membawa kita bisa “MENGHIDUPKAN / MENDIRIKAN SHALAT” bukan sekedar melaksanakan shalat. Artinya baik lahir dan batin kita melakukan shalat. Secara lahir kita melakukan gerakan shalat sedangkan secara batin kita melakukan dzikir dan atau munajat kepada Allah. Teks “Hayya ala shola” juga diucapkan dua kali artinya Lahir dan Batin. Tandanya, orang yang sudah sampai ke tahap ini, akan memilih pakaian bersih dan bagus pada saat sholat, duduk takzim jika berada di dalam masjid, sholatnya lebih tenang dan lama dari orang kebanyakan, terlihat lebih khusyuk (asyik masyuk di dalam dzikir kepada Allah, seperti tidak peduli dengan keadaan sekitarnya). Saya lebih cocok menggunakan istilah Menghidupkan Sholat karena mengandung unsur Lahiriah dan Batiniah.

Orang-orang yang sudah sampai pada tahap “Menghidupkan Sholat” biasanya akan dipahamkan konsep “Inna sholati, wa nusuki, mahyaya wa mammati..dst secara perlahan, kemudian bila ini dapat dipertahankan maka akan dipahamkan konsep “Lillahi ta’ala” dan “la haula wala quwwata ila billah”.

Hidayah berupa pemahaman di atas adalah bukan di alam pikiran tapi di alam perasaan / hati. Tandanya adalah selalu berlemah lembut kepada sesama, tidak terlalu mempersoalkan kehidupan duniawi, cenderung mengucapkan perkataan yang baik, kadang ucapan “insya Allah”, takbir dan tasbih, masya Allah jika didengar oleh orang lain maka orang tersebut bisa ikut merasakan getarannya di dalam hati.

Jika sholatnya sudah sampai ditahap itu, maka dengan sendirinya orang tersebut akan mencapai “Al Falah” (dengan satu huruf Lam) maknanya adalah keberuntungan yang memenangkan. Memenangkan dimana ? Menang Lahir dan Batin. Menang di dunia dan di akhirat.  Biasanya orang-orang yang demikian ini pernah mendapatkan “ilham” baik melalui mimpi ataupun bisikan hati ataupun “pandangan mata” mengenai kondisi spiritualnya. Ayat di Alqur’annya adalah “Yasin: 58″ atau mungkin ayat lainnya tegantung Hidayah dari Allah seperti apa, karena Allah Mah Berkehendak.

Jika orang tersebut sudah sampai pada tahap kemenangan Lahir dan Batin, biasanya akan langsung muncul pengakuan bahwa di atas segala yang terjadi adalah Allahu Akbar “Sungguh Keagungan Allah sangatlah besar, melampui apa-apa yang bisa kita pahami.” Hal ini dinyatakan dengan ucapan Allahu Akbar 2 x dalam teks Adzan, maknanya adalah pengakuan Keagungan Allah baik Lahiriah maupun Batiniah, Dunia Akhirat, dalam Kelapangan dan Kesempitan, dalam Kegembiraan dan kesusahan, dalam Kemudahan dan Kesulitan, dalam Kekayaan dan kemiskinan, dalam Kesehatan dan Sakit.

Jika pengakuan di atas bisa dipertahankan maka akan berujung pada pengakuan La ilaha ilallah. Satu kali diucapkan. Artinya segala sesuatu yang bertentangan akan hilang dan lenyap kecuali Allah. Inilah tingkatan Tauhid paling tinggi dimana sebelum, selama dan sesudah segala sesuatu hanya ada Allah Ta’ala.

Wallahu ‘alam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.