Di suatu masa ketika hari Jum’at, jam 11:30 sudah sampai di suatu masjid di salah satu tempat di Jakarta. Masjid masih sepi dari pengunjung, sehingga suasana lengang tersebut mendukung untuk kegiatan berdzikir sembari menunggu waktu sholat tiba.

Tak berapa lama, muadzin mulai bersiap-siap menyuarakan adzan. Begitu terdengar suara adzan menggema dari loud speaker, sungguh lembut mengalun menumbuhkan kesyahduan dalam hati. Tiba-tiba dalam hati seperti dipahamkan bahwa begitu terdengar suara adzan dikumandangkan, semua “pintu-pintu langit” terbuka dangan lebar. Terlihat aura cahaya putih keemasan berkilauan.

Segera kepala dan hati tertunduk dalam, seraya melantunkan takbir terus menerus di dalam hati. Hal ini berlangsung hingga khatib naik mimbar dan memulai khotbah.

Hingga suatu ketika, badan bergerak untuk bersujud syukur, terlihat bahwa di balik “pintu-pintu langit” suasana menjadi sangat gegap gempita seolah-olah telah hadir banyak sekali “penonton” sedang menunggu suatu kejadian.

Ternyata, khotbah sang khatib sampai masanya di bagian dimana beliau membacakan petikan salah satu ayat Al Qur’an. Zikir Takbir, dan Tahmid berganti-ganti di dalam hati, disebabkan diberikan kesempatan “menyaksikan” kehebohan dan kegembiraan di langit pada saat ayat-ayat suci Al Qur’an di baca oleh khatib Jum at.

Hingga suatu masa khotbah sang khatib masuk membahas musuh Islam. Sang khatib mulai mengeluarkan “sumpah serapah” dan diakhiri “doa permohonan” agar semua musuh Islam (golongan fasik dan munafik) meninggal dan disiksa sebagai orang fasik / munfik. Saat itu juga, suasana dibalik “pintu-pintu langit” langsung sunyi senyap. Sepertinya semua “penonton” sudah pergi meninggalkan kursi masing-masing entah kemana.

Dzikir dalam hati langsung berubah menjadi istighfar, dan istighfar dan istighfar dan terus istighfar. Ternyata “penonton” tidak menyukainya. Hingga khatib selesai membaca khotbah, dan membaca doa, hati ini tidak tergerak untuk meng-amiin-kan doa sang khatib, dan lebih condong beristighfar hingga sholat dilaksanakan hingga salam.

Selesai sholat, hati mulai bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan para “penonton”?

Selidik punya selidik, Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam memang mencontohkan untuk memerangi golongan fasik dan munafik yang terang-terangan memusuhi umat Islam karena benci dengan Agama Islam.

Namun sepertinya Rasulullah Shalallahu alaihiwassalam tidak pernah memanjatkan doa permohonan jelek / kutukan yang ditujukan atas suatu kaum tertentu/musuh. Sejauh yang dipahamkan doa Rasulullah adalah doa mohon perlindungan kepada Allah terhadap kejahatan musuh. Bukan doa kutukan terhadap musuh.

Ada satu kisah yang “menggetarkan jiwa” yang dapat kita jadikan pedoman yaitu sebagai berikut (sumber: http://khilafatulmuslimin.wordpress.com/2009/01/29/tafsir-qs-an-nahl-125-128/ ):

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW berdiri di hadapan jasad Hamzah bin Abdul Muthalib RA ketika hari syahidnya, beliau melihat pemandangan yang tidak pernah terlintas sebelumnya, yang begitu menyayat hati, beliau melihatnya dalam keadaan tercincang-cincang, maka beliau bersabda:

“semoga Allah merahmatimu wahai pamanku, sepanjang yang aku ketahui engkau senantiasa menjalin kasih sayang terhadap sesama, senantiasa bersegera berbuat kebaikan. Demi Allah, sekiranya aku tidak khawatir akan membuat sedih orang-orang yang ada di belakangmu, maka pastilah aku akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini hingga Allah membangkitkanmu dari perut-perut binatang buas. Demi Allah aku akan membalaskan bagimu dengan mencincang 70 orang dari pihak musuh seperti yang mereka lakukan padamu”.

Ketika itu turunlah jibril dengan membawa tiga ayat QS An Nahl ini,
126. Dan jika kamu membalas, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
127. Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap tindakan (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.
128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
Setelah itu beliaupun membatalkan sumpahnya dengan berpuasa 3 hari sebagai kafaratnya.
Ayat ini juga memberi pelajaran kepada kaum muslimin secara umum agar dapat menahan diri dan tidak mengikuti nafsu hedonisme, agar bersabar dengan berharap pertolongan Allah. Biarlah orang kafir saja yang melakukan tindakan yang biadab itu, adapun orang yang beriman, cukuplah Allah yang memberi balasan dan ganjarannya. Jangan bersempit dada, karena Allah bersama orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan. Lupakanlah keburukan sebisa mungkin, karena hal itu akan dapat meringankan beban.

Allahu’alam bish-shawab