Catatan lanjutan tentang marketing mix ini adalah Price, Place and Promotion sebagai strategi pemasaran dan penjualan produk ibadah kita.

Strategi Price (Harga)

Pada saat menetapkan harga suatu produk, cara tradisional adalah dengan pendekatan Bottom Up. Artinya dengan menghitung jumlah total biaya produksi, prosentase keuntungan yang ingin diperoleh dan biaya promosi dan marketing, biaya distribusi dan biaya lain-lainnya sehingga didapatkan nilai harga jual produk tersebut. Pendekatan ini biasanya dikombinasikan dengan pendekatan lain sebagaimana dibawah ini.

Pendekatan lainnya adalah dengan Top Down. Berdasarkan survey kondisi pasar, dapat diketahui tingkat harga suatu produk sejenis beserta kualitas barang tersebut, sehingga kita mendapatkan suatu gambaran mengenai potensi suatu pasar untuk dapat menerima barang dengan tingkat kualitas seperti apa dan dengan tingkat harga yang bisa menghasilkan keuntungan maksimal. Berdasarkan gambaran jenis (kualitas) produk yang diinginkan oleh konsumen dengan tingkat harga yang paling optimal, maka desain produk dan proses produksipun bisa disusun berdasarkan hal tersebut.

Sama halnya dengan ibadah, pendekatan Top Down ataupun Bottom Up sama-sama dapat digunakan. Untuk lebih mudahnya, kita akan mulai dengan pendekatan Top Down. Tuntutan konsumen akhir adalah produk untuk produk ibadah adalah produk dengan kualitas setinggi-tingginya dengan harga semahal-mahalnya. Allahu Ta’ala menginginkan kualitas ibadah dan biaya setinggi-tingginya dari semua hambanya.

Hal ini mengingatkan saya kepada kecemburuan Khalifah Umar bin Khatab terhadap kualitas ibadah Khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq. Suatu ketika, Rasulullahu Shalallahu’alaihi wassalam menyampaikan amanah kepada para pengikutnya agar menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan pembangunan umat Islam di Madinah. Terbetiklah suatu pemikiran di dalam diri Sayyidina Umar bin Khatab, bahwa ini menjadi kesempatan baik baginya untuk bisa mengalahkan kualitas ibadah Sayyidina Abu Bakar Ash-shiddiq.

Setelah segala sesuatunya siap, maka Sayyidina Umar menghadap Rasulullah terlebih dahulu dan menyatakan akan menafkahkan separo dari seluruh kekayaannya untuk disumbangkan guna pembangunan masyarakat Islam. Kebetulan pada saat itu belum ada yang menyumbangkan sebesar apa yang disumbangkan oleh Sayyidina Umar, dan timbul keyakinan pada diri beliau bahwa rencananya untuk mengalahkan kualitas pengabdian Sayyidina Abu Bakar Ash-shiddiq bisa menjadi kenyataan. (catt: Sikap Sayyidina Umar ini bukanlah didasari sikap pamer ataupun ingin menyombongkan diri, beliau sangat jauh dari hal-hal demikian)

Tidak berapa lama, datanglah Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, dan terjadilah dialog antara Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam dengan beliau.

“Ya Abu Bakar, apa yang hendak engkau sumbangkan untuk pembangunan Islam ?”

Maka dengan suara perlahan dan penuh keyakinan Sayyidina Abu Bakar menjawab “ Semuanya Ya Rasulullah, diriku, keluarga dan kedua orangtuaku serta seluruh hartaku aku berikan kepadamu”

Kemudian, Rasulullah bertanya lagi, “Apa yang tersisa untuk dirimu sendiri ?”

“Allah dan Rasul-Nya sudah lebih dari cukup untukku” jawab beliau.

Mendengar jawaban beliau, Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam pun langsung memeluk dan mengucapkan selamat kepada Sayyidina Abu Bakar atas kesempurnaan pemahaman dan pengabdiannya kepada Allah dan Islam. Sedangkan yang lainnya terdiam / terhenyak mendengar kesanggupan Sayyidina Abu Bakar. Sayyidina Umar Bin Khatab pun segera memengang lengan sahabatnya dengan keharuan yang mendalam dan berkata:

“Saya benar-benar takluk kepadamu wahai sahabatku, keikhlasan dan kesempurnaan ibadahmu sungguh membuatku takluk kepada dirimu”.

Pada waktu pertama mendapatkan kisah ini, saya sempat termenung beberapa hari terbayang-bayang terus mengenai cerita itu.

Secara lahiriah, modal yang kita keluarkan di dalam ibadah dapat dibedakan menjadi modal tenaga/biaya  dan modal waktu. Berapa banyak modal tenaga dan biaya yang kita keluarkan untuk urusan Allah. Berapa persen yang anda sisihkan untuk anda sumbangkan. Jika kita ingin biaya murah maka sebagaimana tiket Kereta Api, maka kelas ekonomilah yang kita peroleh. Kita tahu bagaimana kondisi dan pelayanan yang kita peroleh di kereta kelas ekonomi. Apakah anda ingin diperlukan seperti itu selama hidup di dunia, di alam kubur dan di akhirat sebagaimana kondisi dan pelayanan di kereta kelas ekonomi. Jika tidak mau, janganlah membeli tiket kelas ekonomi, jangan sekedar menyisihkan harta sebatas 2,5% sebagaimana syarat minimal yang telah ditentukan.

Dalam sehari kita diberikan modal 24 jam, berapa lama anda akan investasikan modal anda untuk urusan Allah. Sebagai contoh ibadah sholat wajib yang menurut pengamatan saya, pada umumnya dilaksanakan dalam waktu tidak lebih dari 10 menit plus doa sesudah sholat.

Kalau dihitung, 10 menit kali 5 = 50 menit. Sedangkan 24 jam setara dengan 24 x 60 = 1440 menit. 50 menit dari total 1440 menit adalah 3.47%.

Dengan investasi minimum kita ingin mendapatkan jaminan sorga ? Hal itu belum termasuk dikurangi sejumlah denda dan potongan karena dosa dan kesalahan yang kita perbuat.  Secara hitungan matematika jelas-jelas kita akan tekor setiap harinya. Bagaimana mungkin mendapatkan keuntungan di akhir kehidupan kita ?

Untungnya telah disediakan berbagai macam alternatif ibadah sunah yang bisa menutupi ketekoran kita jika kita bersedia berusaha meluangkan waktu, tenaga dan biaya lebih.

Selain itu juga ada ambang toleransi yang diberikan Allah berupa janjiNya yaitu “RahmatKu mendahului murkaKu”. Dan saya pribadi haqqul yakin, Demi Allah dan Rasulullah, sungguh jika bukan karena rahmatNya tidak mungkin alias mustahil, kita bisa mendapatkan “keuntungan” dari ibadah yang kita lakukan.

Selain sisi lahiriah di atas, bila dilihat dari sisi batiniahnya, harga ibadah kita akan dinilai berdasarkan kualitas produknya, semakin baik kualitasnya maka secara otomatis harganya akan meningkat dan pasti “laku” dan akan dihargai dengan sebaik-baiknya. 

Kualitas dan kemurnian material tauhid, keikhlasan, ketulusan, dan rasa penghormatan hanya untuk Allah di dalam setiap ibadah menentukan kualitas akhir suatu produk dan selanjutnya menentukan harga produk ibadah yang kita hasilkan. Bagi yang terbiasa membuat kue / roti / makanan akan sangat memahami maksud dibalik penjelasan pada paragraf ini.

Place_Lokasi pemasaran / penjualan.

Lokasi ikut menentukan keberhasilan dari kegiatan pemasaran dan penjualan yang dilakukan. Begitu juga dengan Lokasi Ibadah kita. Dari sekian banyak kota, maka Kota Mekkah adalah penghulu dari semua kota yang ada di dunia. Dari sekian banyak masjid diseluruh dunia, maka Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjadi tempat utama dibandingkan masjid-masjid lainnya diseluruh dunia. Berdasarkan hal ini maka tentunya setiap masjid memiliki derajat yang berbeda di hadapan Allahu Ta’ala. Cermatilah masjid-masjid di sekitar kita yang memiliki derajat kehormatan yang lebih baik dibanding lainnya.

Terkait dengan Lokasi adalah mengenai hari dan jam ramai pengunjung sehingga usaha pemasaran dan penjualan diharapkan bisa mencapai titik maksimal.

Begitu pula dengan ibadah di dalam Islam, terdapat hari dan waktu tertentu yang merupakan Prime Time untuk pelaksanaan ibadah. Hal ini sangat jelas dan sudah seringkali dibahas di dalam berbagai ceramah dan pengajian.

Promotion

Sejauh mana produk anda dikenal dan diterima oleh masyarakat sangat menentukan penetrasi dan penerimaan pasar serta pertumbuhan usaha penjualan anda.

Demikian pula dengan ibadah kita, sejauh mana kita dikenal dan diterima oleh sesama mahluk Allah baik yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Pada hari penghitungan di mana semua mahluk dihisab dan dimajukan saksi baik yang meringankan maupun yang memberatkan.

Seberapa banyak saksi anda, berapa banyak jumlah manusia yang akan memberikan kesaksian baik terhadap kita ?

Seberapa banyak binatang yang akan memberikan kesaksian yang meringankan / memberatkan kita?

Seberapa banyak batu dan debu yang akan memberikan kesaksian yang meringankan / memberatkan kita?

Seberapa banyak tumbuhan yang akan memberikan kesaksian yang meringankan / memberatkan kita?

Seberapa banyak malaikat yang akan memberikan kesaksian yang meringankan / memberatkan kita?

Apakah badan, organ, darah, keringat, dan rambut kita akan memberikan kesaksian yang meringankan atau memberatkan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s