AWAL MULA

Sewaktu masih kuliah saya belajar mengaji kepada penjaga masjid dekat rumah. Beliau masih muda dan belum menikah. Setelah beberapa waktu belajar kepada beliau, suatu ketika beliau mengatakan kepada saya:

“ Semoga anda menjadi seorang yang paham ilmu agama dan sekaligus ilmu dunia” ucap beliau sambil tersenyum.

Kalimat tersebut hingga sekarang masing sering terngiang-ngiang, teringat saat itu sehabis shalat Maghrib di masjid Mangkuyudan dekat pintu samping kanan. Waktu itu kira-kira tahun 1994.

PERISTIWA KEDUA

Pada masa perkuliahan di mana waktu itu sedang persiapan skripsi, saya duduk bersama Mas Parman, seorang pegawai fakultas yang rutin bertugas jaga fakultas dari siang hingga sore hari. Saat itu kira-kira jam setengah 5 sore, kami duduk di atas rumput sambil mengobrol sebagaimana hari-hari yang lain. Saya sempat iseng curhat sama beliaunya.

“Mas Parman, saya kok rasanya sedang bingung, nggak tau bingung karena apa” kata saya.

“Sedang ada masalah apa mas, banyak tugas kuliah ya yang belum selesai ?” jawabnya dengan bertanya.

“Ngga juga, yang jelas saya cuman bingung aja” jawab saya.

“Hidup kok susah to mas, kalau saya, syukuri apa yang ada” jawabnya dengan logat Jawa yang kental.   

“Ooo gitu ya…” jawab saya sambil termenung.

Kami diam beberapa saat hingga Mas Parman pamit mau memeriksa pintu-pintu ruangan untuk dikunci.

Namun, selama beberapa hari, kata-kata Mas Parman yang notabene hanya berpendidikan SMA persamaan itu begitu kuat menancap di ingatan. Hingga akhirnya saya merasakan “kebingungan” tersebut hilang entah kemana.

PERISTIWA KETIGA

Setelah saya lulus kuliah, Alhamdulillah saya langsung dapat pekerjaan di salah satu grup perusahaan besar di Jakarta. Gaji bulanan yang saya dapatkan sepertinya habis untuk membeli buku, berbagai macam buku yang terkait dengan pekerjaan dan buku agama. Salah satu buku agama yang saya baca waktu itu adalah buku yang ditulis Murtadha Muthahhari, seorang ulama Syiah.

Ada satu bab saya lupa tentang apa, namun setiap sampai di bab tersebut, muncul rasa takut sehingga saya tidak berani meneruskan membaca dan buku langsung saya tutup. Kejadian ini berulang-ulang hingga akhirnya saya menyerah dan menyimpan buku itu di meja.

Beberapa bulan kemudian, saya membeli buku Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali sebanyak 9 jilid. Tidak butuh waktu sebulan hingga buku itu selesai saya baca. Kemudian saya iseng mengambil bukunya Murtadha Muthahhari dan mulai membaca. Anehnya rasa takut yang sebelumnya muncul sudah tidak ada lagi, hingga saya selesai membaca buku tersebut.

PERISTIWA KEEMPAT

Mulai tahun 1998 saya bekerja di salah satu perusahaan asing di Jawa Timur, kebetulan ada salah satu teman kantor dari bagian akunting yang memiliki hobi sama, yaitu membicarakan Islam dan filsafat Islam. Setahun kemudian, kami sepakat untuk mencari pengajian jam 12 malam, disebabkan biasanya pengajian tengah malam lebih banyak mengkaji mengenai tafsir-tafsir tasauf yang jarang dibahas pada pengajian-pengajian pada jam-jam selain itu. Tidak berapa lama, kami mendapatkan pengajian tersebut dan mulailah saya mengikuti pengajian tersebut di kota Malang selama 2 tahun. Namun, perasaan saya mengatakan bahwa kemajuan yang saya dapatkan sangat lambat. Akhirnya pelan-pelan saya jarang mengikuti pengajian tersebut.

PERISTIWA KELIMA

Dua tahun saya bekerja di pinggiran Surabaya, akhirnya saya memutuskan pindah ke luar Jawa, ke kampung halaman istri saya. Hingga suatu ketika pada saat saya sedang dinas ke Palembang, istri saya menelpon mau ikut pengajian khusus. Saat itu saya hanya berpesan kepada istri saya sebagai berikut:

“Boleh aja kamu ikut, tapi lihat-lihat dulu, selama kamu melihat lafad Allah dipengajian itu, ikut aja, tapi jika tidak jangan diteruskan” pesan saya. Istri saya menyanggupi dan ikut bertafakur di suatu masjid diluar kota (lebih kurang 2 jam perjalanan darat) yang ada di atas sebuah bukit.

Besok siangnya, istri saya menelpon dan memberitahu saya bahwa sepanjang perjalanan menuju lokasi masjid di atas bukit tersebut, dia melihat lafad Allah ada di mana-mana, disetiap benda yang dilihatnya di sepanjang perjalanan selama 2 jam tersebut. Langsung saya katakan, itulah ajaran yang murni mengajak kepada Allah. Saya minta istri saya untuk segera bergabung dan saya akan menyusul jika sudah kembali dari Palembang.

Akhirnya, saya ikut dengan pengajian tersebut dan diresmikan jam 11 malam di suatu masjid tua yang didirikan tahun 1500 an, yang merupakan masjid tertua di situ.

Sederhananya kami hanya mempelajari syahadat saja, sedangkan pelajaran lainnya diminta untuk belajar sendiri melalui buku-buku Islam yang banyak tersedia di berbagai macam toko buku. Syahadat yang kami pelajari sama dengan sahadat pada umumnya yaitu:

“ASYHADU AN-LAA ILAHA ILALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH”

Alhamdulillah pada minggu kedua, saya mulai banyak mengalami dan merasakan langsung kebesaran Allah. Inilah yang aneh, karena jika ditinjau dari kalimat syahadat yang diucapkan tidak ada perbedaan dengan yang selama ini kita kenal, namun dampak dan manfaat pembacaan syahadat sangat jauh berbeda.

Beberapa kali kami membahas hal ini bersama para senior, dan selalu para berakhir dengan ucapan “Jika ada sesuatu hal / kejadian dengan campur tangan kuasa Allah secara langsung, maka logika manusia tidak akan pernah bisa memahaminya, meskipun bagi yang mengalaminya sendiri”

Hingga 1 hari lalu, setelah 5 tahun lebih saya bergabung, saya mendapatkan jawabannya, dari Al Quran. Siang itu saya merasakan desakan hati untuk membaca Al Qur an, Surat Al Maidah, begitu sampai ke ayat ke 7 disitu saya berhenti lama dan bacaan saya berhenti dengan sendirinya. Berikut adalah ayatnya:

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya[405] yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu). QS AL MAIDAH: 7

Ayat tersebut di atas merupakan kelanjutan dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Pada 2 hari sebelumnya, ada anggota baru yang akan diresmikan menjadi anggota pengajian di mana saya ikut sebagai saksinya. PAda saat proses peresmian tersebut tiba-tiba di dalam hati saya terlintas kalimat “SAMI’NA WA ATHO’NA”. Saya tahan untuk tidak menyampaikan kepada anggota baru tersebut kawatir bahwa hal tersebut akan dipersepsikan bahwa dia dipaksa untuk taat buta kepada kami. Maklum beliau adalah seorang TNI berpangkat Mayor yang sebentar lagi Insya Allah akan naik pangkat menjadi Letkol.

Sorenya saya mendatangi rumah sesepuh hendak mengkonfirmasikan “berita” yang saya dapat. Setelah bertemu beliau, beliau juga menceritakan pada hari di mana Sang Mayor tersebut akan diangkat secara resmi, pada waktu setelah sholat maghrib, dalam tafakurnya, beliau mendapat berita Al Maidah 7 – 11.

Dari situlah akhirnya saya baru memahami bahwa syahadat kami adalah berdasar pada perjanjian dengan Allah sebagaimana disebutkan pada QS Al Maidah ayat 7 tersebut di atas.

Dengan syahadat itulah saya secara perlahan “diperjalankan” disuatu jalan berdasarkan ayat “iqra bismirabbikaladzi khalaq” bukan iqra bil kitab. Alhamdulillah.

Amiin Ya Allah.

One Response to “MENCARI JALAN ILAHI”


  1. Assalamualaikum,,,
    Sangat memberi pengajaran pabila membaca kisah ini….
    Alhamdulillah,,sedikit sebanyak boleh mengajar & memberi panduan pada hidup saya….:)

    *Singgah sini,,if sudi follow blog saya,,,Terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s