Musibah akhir-akhir ini menjadi akrab di telinga kita. Hampir diseluruh penjuru dunia musibah terjadi dan memakan korban yang tidak sedikit.

Beberapa tahun lalu, saya sendiri menerima musibah yang tidak besar. Meskipun musibah kecil, seharusnya waktu itu yang terucap di dalam hati saya adalah “Innalillahi….. dst. atau paling tidak Astaghfirullah…..

Tapi, anehnya waktu itu kuat sekali keinginan dalam hati untuk mengucapkan “Alhamdulillah”. Kenapa begini Ya Allah ?

Singkat cerita, waktu itu saya akan dinas ke jakarta, pergi ke bandara di antar istri dan anak-anak. Sewaktu sampai dibandara saya turun dan istri saya berpindah ke jok kemudi. Baru saja hendak meninggalkan bandara, tiba-tiba ada mobil dari kanan yang membelok dengan cepat mengantar anggota DPRD yang terhormat dan terdengar suara “dhuaagh” cukup keras. Secara spontan mulut saya mengucap “Amiin Ya Allah” disitu saya terhenyak dan langsung munajat dalam hati. Jawabannya adalah “Alhamdulillah”

Saya segera memeriksa kendaraan saya dan melihat sedikit lecet pada bagian bumper depan namun mobil DPRD terjadi kerusakan yang lebih parah, ada bagian sampingnya yang sedikit melesak lebih dalam di bandingkan kendaraan saya.

Akhirnya, terjadi perdamaian dan masalah tidak diperpanjang dan mereka minta maaf.

Selama menunggu di ruang tunggu bandara, saya terus bermunajat sambil berdzikir dalam hati. Sampai berapa lama belum ada juga jawaban. Akhirnya pesawat siap diberangkatkan dan pintu boarding sudah dibuka. Masuklah saya ke dalam pesawat dan mencari tempat duduk sesuai no kursi yang sudah ditentukan.

Selama dipesawat saya lanjut dengan berdzikir selama hampir 2 jam hingga pesawat mendekati bandara Soekarno Hatta. Pada waktu pesawat proses pendaratan, tiba-tiba ada angin kencang yang menggoncang badan pesawat sehingga pesawat sedikit oleng, semua penumpang sudah resah dan ada beberapa penumpang lainnya yang berteriak kaget. Disitulah pemahaman saya dapatkan.  Beritanya kurang lebih seperti ini:” Inilah bencana yang dihindarkan dan diganti dengan bencana kecil berupa tabrakan dengan mobil DPRD tadi”

Mendapatkan pemahaman seperti itu langsung dzikir saya berubah menjadi takbir. “Allahu Akbar Allahu Akbar La ilaha ilallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Kabira wal hamdulillahi katsiraa wa subhanallahi bukhratawwa asila la ilaha ilallahu Allahu Akbar sampai beberapa kali hingga saya turun dari pesawat dan menuju pintu keluar.

Sungguh hal itu membuat saya termenung, mengingat kejadian sebelum berangkat yang kebetulan saya sempat bertemu dengan teman lama dan berdiskusi dimana teman saya bersikukuh untuk mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,terkait dengan musibah yang baru saja terjadi,  sedangkan saya bersikukuh dengan ucapan Alhamdulillah.

Satu lagi pembuktian bahwa Allah tidak pernah mendholimi hambanya, La ilaha ilallah huwa rohmannurrahim. Amin Ya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s