FASE 1: PENANAMAN BENIH SYAHADAT

Ibarat pohon, fase pertama adalah penanaman biji atau benih. Begitu pula dengan pohon spiritual Islam, fase pertama adalah penanaman SYAHADAT dalam diri seseorang sedemikian hingga jiwa terilhami untuk bersedia “Mendengar dan Bersedia untuk Taat”, kemudian hati berkata “Sami’na wa atho’na”.

Hal ini bisa terjadi jika penanaman benih Syahadat dilakukan oleh orang yang sudah diberikan ijin untuk mengikat perjanjian antara seorang manusia dengan Sang Pencipta, sehingga Sang Pecipta berkenan untuk mengikat diri seseorang tersebut dengan suatu perjanjian yang teguh dan tercatat di dalam suatu Kitab yang disimpan oleh Malaikat. Sebagaimana difirmankan Sang Pencipta:

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya[405] yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu). (QS AL Maidah 7)

Catt: Perjanjian itu ialah: sebagaimana dicontohkan di dalam perjanjian antara Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dengan para sahabat yang berjanji akan mendengar dan mengikuti Nabi dalam segala keadaan yang diikrarkan waktu bai’ah.

 Setelah benih ditanam, maka benih perlu dirawat, dipelihara dan diberi pupuk agar tumbuh menjadi tunas.

 

FASE KEDUA: PERTUMBUHAN TUNAS

Pertumbuhan tunas hanya mungkin terjadi jika benih tersebut ditanah yang subur dan bebas dari hama oleh karena tanah tempat benih ditanam harus sering dibersihkan dengan istighfar terus menerus. Hama perbuatan dosa wajib dicabut hingga akarnya dan dilindungi dari agar hama perbuatan dosa tidak kembali lagi dan tidak ada hama perbuatan dosa yang baru dengan cara menyedikitkan makan (puasa).

Selain itu, perlu juga diperhatikan siraman air tidak boleh terlambat atau kurang, karena air merupakan sumber kehidupan. Benih pohon syahadat tersebut perlu mendapatkan siraman air sholat (wajib – sunah) dan zikir sebanyak-banyaknya. Perlu juga diberi pupuk dengan sadaqah berupa harta, tenaga, dan pemberian maaf kesalahan orang lain.

Apabila langkah tersebut di atas dapat dilaksanakan dengan baik selama waktu tertentu, maka tunas akan muncul dan tumbuh menjadi pohon, dan  sedikit demi sedikit akan tumbuh menjadi besar sehingga Sang Pencipta akan menurunkan titahNya:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al Maidah:8)

Pelaksanaan titah di atas diawali untuk bersaksi dan bersikap adil kepada dirinya sendiri sebelum bersaksi dan bersikap adil kepada orang lain.

Bersaksi mengandung arti menyaksikan, memperhatikan dan mengingat, kemudian bersikap adil adalah dengan menindaklanjuti hasil kesaksian dengan membuat suatu keputusan apakah benar atau salah.

Pada saat suatu keputusan sudah jelas benar salahnya, maka jika perbuatannya yang disaksikan oleh dirinya sendiri tersebut benar maka akan dipertahankan, dan apabila perbuatan tersebut salah, maka wajib untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas istighfar dan puasanya sebagai penebus kesalahan.

Kesaksian terhadap diri pribadi seseorang yang dilakukan oleh dirinya sendiri termasuk perbuatan-perbuatan:

  1. niat, sikap dan lintasan hati,
  2. ingatan dan pikirannya sendiri.
  3. tangan, kaki dan pembawaan diri,
  4. mulut, dan ucapan,
  5. ekspresi wajah dan tatapan mata,

Hal ini sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis kehidupan dari Sang Pencipta:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahriim:6)

Apabila hal ini dapat dilaksanakan beberapa lama maka suatu saat benih tersebut akan menjadi pohon yang besar dan tinggi.

 

FASE KETIGA: POHON BESAR YANG BERCABANG BANYAK, RIMBUN DAUNNYA DAN BERBUAH MANIS

Setelah pohon tumbuh menjadi besar maka perlahan namun pasti, akan rindang daunnya sebelum muncul bunga bakal buah yang nantinya akan menjadi buah. Pada saat itu, pohon spiritual kita akan terasa sejuk bagi orang lain untuk sekedar bernaung dan melepaskan lelah. Menjadi tempat bersarang bagi beberapa burung dan hewan lainnya. Pada saat ini, kita secara perlahan akan berubah menjadi “rahmatan lil ‘alamin”. Rahmat bagi alam semesta.

Kondisi tersebut di atas, akan memuncak pada saat pohon spiritual kita bisa berbuah manis dan bisa menghasilkan manfaat berlipat ganda dan bisa dirasakan oleh lebih banyak orang. Hal ini sudah dijanjikan oleh Sang Pecipta sebagaimana saat perjanjian di awal bahwa:

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( QS Al Maidah: 9)

La haula wala quwwata ila billahil ‘aliyyil adhiim.

Allahu’alam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s