Awal mula orang memiliki suatu masalah biasanya berawal dari munculnya sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut bisa muncul di pikiran seseorang karena sekedar keingin-tahuan belaka, atau karena sedang menghadapi suatu masalah atau karena ingin menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan.

Misalkan seorang pelajar mendapatkan tugas dari guru atau dosen, orang yang sudah lama ingin mencari pekerjaan namun belum mendapatkannya, atau seseorang yang ingin mencari pasangan hidup, lama menderita suatu penyakit dan tidak sembuh-sembuh, orang yang hidup secara pas-pasan, dan atau merasa kekurangan secara ekonomi, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Jika seseorang sedang menghadapi suatu masalah, akan menunjukkan perilaku yang sama, yaitu terdiam, atau berjalan kesana kemari sambil menghela nafas beberapa kali disertai dengan dahi berkerut, atau sambil duduk, kepala tertunduk, kedua tangan memegang rambut.

Jika sudah lama dalam posisi tersebut di atas dan tidak mendapatkan “bayangan pemecahannya” maka orang tersebut minimal akan menghela nafas disertai adanya suara yang keras, atau berteriak aaaahhhh……….., atau berteriak sambil melempar suatu barang. Kondisi parah akan terjadi jika sseorang menjadi histeris tanpa sebab.

Secara ilmu psikologi, penjelasan sederhananya kira-kira sebagaimana berikut. Dinamika stres dimulai dari bertumpuknya “masalah yang tidak mendapat jalan keluarnya”, biasanya dalam tahap ini muncul gejala mudah cemas atau anxiety. Gejala fisik biasanya nampak dari detak jantung yang lebih cepat, keringat yang berlebihan, tiba-tiba sakit perut dan atau pusing kepala. Jika kecemasan ini muncul saat menghadapi situasi mirip dengan situasi kegagalan di masa sebelumnya maka situasi yang menimbulkan stress ini disebut dengan “Stress-full Life Event” ( SLE )

Bila kecemasan akibat Stressfull Life Event ( SLE ) ini selalu dihadapi / muncul, biasanya  situasi-situasi lain secara perlahan akan menjadi Stressfull Life Event dan jika berlangsung lama, maka seseorang akan “mengadopsi” pola pikir yang disebut sebagai “learned helplessness” atau perasaan ketidak-berdayaan yang dpelajari secara tidak sadar. Hasilnya adalah gejala depresi, dimana gejala yang timbul adalah susah makan, ingin menyendiri, malu bertemu orang lain, suasana hati selalu murung, cenderung curiga kepada orang lain. Learned Helplessness inilah jika “dirawat baik-baik” (baca: berlangsung terus menerus) dan tidak segera di atasi menjadi kontributor utama dalam berbagai kasus bunuh diri. Meskipun untuk terjadinya bunuh diri diperlukan adanya suatu kejadian kegagalan mengatasi Stressfull Life Event sehingga berfungsi sebagai faktor pemicu pengambilan keputusan untuk bunuh diri.

Namun ada juga pola perilaku yang berbeda yang ditunjukkan dari kegagalan seseorang mengatasi “Stress Full Life Event” ini, yaitu perilaku “melarikan diri”. Ciri-cirinya adalah orang ini mengadopsi model perilaku dan penampilan yang berbeda dari masyarakat di mana dia tinggal. Hal ini merupakan suatu mekanisme pembelaan dirinya dengan mencoba “oto-sugesti” secara tidak disadari dengan pernyataan ” Saya berbeda dengan orang kebanyakan, saya bukan bagian dari mereka, sehingga saya tidak perlu menghadapi “Stressfull Live Event” tersebut sebagaimana mereka itu, untuk itu lihatlah saya dengan model perilaku dan penampilan yang berbeda”. Ini sebenarnya merupakan gejala “penolakan terhadap identitas diri sebelumnya” sehingga orang ini perlu menciptakan suatu “identitas dan pencitraan diri” yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Minimalnya kita bisa melihat orang ini berpenampilan dan berperilaku  sebagaimana disebut “korban mode”.

Bila ini dipertahankan dan semakin diperkuat oleh lingkungan sekitarnya maka sangat besar kemungkinan orang ini akan berbuat melanggar norma masyarakat, atau melakukan pelanggaran hukum atau cenderung agresif-destruktif.  Sedangkan kondisi maksimal bisa jadi berbuat kriminal dan atau menjadi seorang anti-sosial atau lebih dikenal dengan istilah psikopat untuk kondisi yang ekstrem.

Oleh karena itu, problem solving menjadi sangat penting di dalam kehidupan manusia dimanapun dia berada dan siapapun dia.

Namun sayangnya, untuk mampu melakukan problem solving, diperlukan kapasitas berpikir logika, analisa dan sintesa yang memadai. Selain itu masih membutuhkan dukungan informasi / data yang mencukupi agar pemecahan masalah menjadi akurat.

Problem solving menjadi lebiih sulit dilaksanakan jika didasari tuntutan yang melebihi kemampuan orang tersebut. Selain itu keterbatasan waktu dan sumber daya menjadi hambatan yang menciptakan kecemasan tersendiri untuk mengatasinya. Belum termasuk pertimbangan resiko jika terjadi kegagalan.

Kondisi di atas sebenarnya yang menciptakan adanya Stressfull Life Event. Kebuntuan ini sering kali terjadi pada saat hanya mengandalkan diri sendiri, sehingga muncullah solusi team-work, gotong-royong dan sebagainya.  

Namun, seberapa sering anda mendapatkan bantuan untuk mengatasi masalah pribadi anda ? Apalagi hidup di kota besar, di mana prinsip LU LU GUE GUE atau Emang Gue Pikirin semakin banyak pengikutnya. Betul kata pepatah, teman dikala senang, susah makan aja sendiri.

Sebelum terjadi kebuntuan dan mencegah berkembangnya Stressfull Life Event di dalam pribadi kita, sebaiknya kita rubah sedikit POLA PERENUNGAN di dalam menghadapi suatu permasalahan apapun dan dimanapun.  Silahkan dicermati gambar skema dibawah ini:

Pada skema Non Ketuhanan, biasanya kita akan fokus pada permasalahan semata dan berusaha menggali memori / ingatan kita terkait dengan permasalahan tersebut atau browsing di internet atau tanya teman.

Sedangkan pada skema Berketuhanan, selama proses berpikir usahakanlah dimulai dengan “suatu dialog” yaitu “Ya Allah, bagaimana pemecahan masalahku ini ?” Mohon petunjuk Mu Ya Allah….”

Bila dialog di atas dilakukan dengan sungguh-sungguh, secara perlahan anda akan mendapatkan “pencerahan”. Dan itu pasti! Janji Allah tidak pernah bohong! Masalahnya selalu pada diri kita sendiri, sabar atau tidak sabar saja. Kadang kita bermohon pada Yang Maha Kuasa dengan cara dan sikap yang tidak sopan, maunya instan.

Bukannya memohon pertolongan namun “cenderung memerintah” perhatikan betul-betul sikap dan bahasa hati pada waktu kita bertafakur.

Atau mungkin kita memohon sesuatu yang mana sebelumnya, kita lebih banyak bermandikan “kebohongan”, “makanan haram” dan lainnya.

Ibaratnya kita akan menghadap “Raja dari Semua Raja” tentu pakaian kita harus yang terbaik khan ? Baik pakaian lahir maupun pakaian batin. Sopan santun dan tata bicara harus super “low-profile” karena yang kita hadapi adalah yang menentukan mati hidup kita. Hanya orang-orang yang pernah dekat dengan pengalaman “mati-hidup” lah biasanya mudah memahami paragraf ini.

Sejauh yang pernah saya alami, kebiasaan berdialog sebagaimana di atas akan berkembang dengan sendirinya ke dalam setiap permasalahan hingga sekecil-kecilnya. Misalkan kita hendak bepergian “Ya Allah…sebaiknya berangkat sekarang atau sebentar lagi ?  Bila dijalan bertemu dengan persimpagan jalan, ” YA Allah ..sebaiknya lewat mana ?” dan masih banyak lagi. Dan hasilnya biasanya jarang sekali meleset dari harapan atau kepentinan kita.

Bahkan pernah mengalami kejadian yang kalau mau dibilang aneh yang aneh kalau mau dibilang lucu ya lucu juga.

Suatu ketika musim hujan, sebelum berangkat, saya bertafakur dulu sambil memperhatikan hujan yang turun cukup deras, tiba-tiba timbul niat untuk berangkat segera pada saat hujun agak mereda, sampai dipinggir jalan besar, hujan berhenti. Saya jalan menuju halte bus dan pada saat ada bus yang biasa saya tumpangi datang, saya segera naik. Belum 10 meter bus jalan, hujan kembali agak deras hingga hampir sampai ke tempat tujuan, hujan mereda kembali. Kemudian saya jalan menuju gedung di mana saya bekerja. Belum lama saya melewati pintu masuk, tiba-tiba hujan kembali cukup deras. Allahu Akbar, disitu ada keharuan yang mendalam mengingat kemurahan dari Sang Pencipta. Disebabkan masa-masa itu antara perbuatan dosa dan amal baik masih bercampur aduk silih berganti.

Keharuan yang merasuk kedalam hati disebabkan langsung terasa sampai dilubuk hati rahmat Allah melebihi / melampaui siksaanNya.

Amiin Ya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s