“Sholat adalah tiang agama..”

Hadist di atas yang diriwayatkan oleh HR Baihaqi, sangat dikenal oleh semua muslim. Penggambaran sholat sangat singkat namun padat, sempat mengusik hati beberapa waktu lalu.

Jika pengibaratan sholat menggunakan tiang, tentu saja secara makro, tiang merupakan bagian dari suatu bangunan. Masuk di akal.

Pernyataan lain di dalam QS Al Ankabuut: 45 “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar..”

Nah ini penyebab kerisauan hati ini. Sebab, di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah muslim, minimal 5 kali sehari melakukan shalat, atau minimalnya paling tidak 1 minggu sekali setiap jumat atau mungkin 2 kali selama setahun (sholat hari raya). Kalau mau jujur tidak semua orang Islam taat dan tertib sholat lima waktu. Namun, yang menjadi perhatian di sini adalah yang shalatnya tertib dan taat melaksanakan 5 waktu saja.

Kalau mau jujur, meskipun rajin shalat 5 waktu, perbuatan keji dan mungkar masih tetap jalan terus. Lho ? mari kita perhatikan disekitar kita. Perbuatan keji dan mungkar minimalnya adalah berkata sialan dalam hati. Perbuatan keji dan mungkar lainnya biasa tidak kita filter begitu menyangkut masalah uang. (Anda tahu yang saya maksud, khan? ). Belum termasuk yang lain-lain.

Di mana salahnya ? Persoalan ini sempat ngendon beberapa bulan dalam hati untuk mencoba mencari penyebabnya.

Kembali ke titik nol, yaitu “Shalat adalah tiang agama”, jika pengibaratan shalat adalah suatu tiang yang mana logika awam sepakat bahwa tiang merupakan bagian penting dari suatu bangunan. Di sinilah alternatif pilihan terhadap salah satu analisa sebab akibat dicoba untuk dirumuskan.

KOMPONEN SUATU BANGUNAN

Setiap bangunan terdiri dari PONDASI, TIANG, DINDING DAN ATAP. (Analisa kali ini belum memasukkan pintu, jendela, listrik, air, cat rumah dan asesoris lainnya untuk tujuan mempermudah pengertian)

Sebelum Tiang berdiri, tentu saja yang dibangun terlebih dahulu adalah PONDASI khan ? Selama ini jarang atau kurang dibahas membangun PONDASI agama. Ada yang bilang Syahadat. Ada lagi yang bilang Tauhid. Bagaimana cara membangun Syahadat atau Tauhid atau yang lainnya yang berfungsi sebagai PONDASI agar mampu menopang TIANG dengan kokoh ?

Sekuat-kuatnya TIANG dibangun jika PONDASI tidak kokoh pasti akan runtuh. Coba kita tanya kepada Sarjana Teknik Sipil klau ngga percaya.

Suatu bangunan tanpa DINDING, tidak layak disebut bangunan. Apakah DINDING agama kita ?

Suatu bangunan tanpa ATAP, penghuninya akan selalu kepanasan dan kehujanan. Adakah yang ingin tinggal di rumah tanpa atap? Apakah ATAP agama kita ?

Dari analisa komponen suatu bangunan pelan-pelan mulai terbayang, bahwa hanya dengan TIANG maka suatu bangunan tidak bisa dibilang sempurna. Apakah hadist Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam salah ? TENTU SAJA TIDAK! yang salah adalah kita-kita ini yang belum memberikan makna lebih dalam, namun masih sebatas mengartikan dari sudut bahasa semata dan kemudian menyebar-luaskan sebagai pemaknaan final.

LAHAN TEMPAT BANGUNAN DIDIRIKAN

Jika suatu bangunan akan didirikan tentu yag pertama dilakukan adalah analisa dan pengolahan TANAH di mana bangunan tersebut akan didirikan.

Karakteristik Tanah sungguh sangat beragam, ada yang padat dan keras siap didirikan suatu bangunan, namun juga ada jenis dan karakteristik tanah yang gembur, berpasir, bekas tanah rawa, miring, bergelombang, dan berbatu-batu.

Oleh karena itu, dikenal berbagai macam teknik pembuatan PONDASI. Selain itu juga sebelum pembangunan PONDASI, perlu dilakukan LAND CLEARING terlebih dahulu disesuaikan dengan jenis dan karakteristik lokasi lahan.

Catatan: LAND CLEARING kurang lebihnya berarti proses pembersihan, perataan, dan pemadatan lahan bangunan.

TANAH disini lebih cenderung sesuai jika di analogikan sebagai JIWA / HATI kita masing-masing.

Pertanyaan, pernahkah kita mengenali jenis dan karakteristik Hati dan Pribadi kita sendiri ? Apakah Hati kita termasuk dalam kategori tanah berbatu ? bekas rawa?, gembur?, tanah berlumpur?, tanah dengan banyak semak belukar ? tanah berpasir ? dll

Teknik dan metode LAND CLEARING yang bagaimana yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sehingga dapat dibangun Pondasi Agama yang kokoh sehingga mampu menyangga beban keseluruhan bangunan termasuk TIANG agamanya?

JENIS BANGUNAN

Pertanyaan selanjutnya adalah jenis bangunan agama apakah yang hendak kita bangun ?

Apakah:

1. Bangunan Agama sejenis Gubuk ?

2. Bangunan Agama sejenis Rumah Papan ?

3. Bangunan Agama sejenis Rumah Batu ?

4. Bangunan Agama sejenis Bangunan Bertingkat ?

Ke empat jenis bangunan di atas membutuhkan jenis dan karakteristik penataan lahan /TANAH, PONDASI dan TIANG yang berbeda-beda ?

Jenis dan karakteristik bangunan agama Islam seperti apakah ?

Bangunan agama kita masing-masing saat ini berupa salah satu bangunan yang mana dari 4 jenis di atas ?

.

.

dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan kelanjutannya yang berkecamuk di dalam alam pikiran mencari jawaban.

Allahu’alam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s