Saya dan istri kebetulan punya hobi yang sama, yaitu menyukai hal-hal yang berbau agama. Saya ingat dulu waktu pacaran, sering pergi berboncengan mencari “orang pintar” untuk memburu doa-doa dan amalan-amalan dzikir. Jadi obrolan kami waktu itu lebih banyak mengenai hal-hal agama, budaya dan tradisi islam.

Setelah menikah, saya ikut majlis zikir bersama istri saya. Hingga suatu ketika ada pengakuan dari pembimbing bahwa “tingkat spiritualitas” istri saya sudah jauh melebihi teman-teman majlis yang lain. Saya mendengar hal tersebut cukup kaget. Karena secara kasat mata, apa yang dilaksanakan istri dirumah dan tugas-tugas zikir yang diberikan sama juga saya lakukan. Sholat ya sholat lima waktu, kadang-kadang sholat dhuha. Sholat tahajud ? Ya standar dua rakaat.  Baca Qur’an sekedar sempat saja.

Timbul pertanyaan dalam hati ini, apa nih rahasianya ? Sampai muncul pengakuan dari pembimbing majlis mengenai istri saya.

Selama beberapa hari, diam-diam saya amat amati istri saya sendiri, baik sholatnya, dzikirnya, puasanya dan mengajinya. Kok ngga ada yang istimewa?

Sampai suatu ketika saya sudah tidak tahan untuk bertanya langsung kepada istri saya sebagaiman berikut:

“Dik, kamu bagaimana cara dzikirnya sih? Kok sampai ada komentar dari pembimbing bahwa tingkatan spiritualmu sudah melebihi yang lain ? Padahal kita khan baru saja masuk dalam majlis zikir itu? 

Saat itu sudah ada beberapa anggata majelis yang sudah bergabung lebih dari 2 tahunan.

Istri saya menjawab, “Nggak tahu” jawabnya cuek. “Ya…seperti yang mas lakukan. Sama ngga beda”. Saya tambah penasaran dengan jawabannya yang pendek, saya betanya lagi dan saya desak lagi dengan berbagai macam pertanyaan.  

Akhirnya dari keterangan istri saya keluarlah cerita sebagaimana berikut:

Karena istri saya dirumah maka sebagaimana istri yang tidak bekerja, maka yang dilakukannya adalah bersih-bersih rumah, memasak, cuci piring dan pekerjaan rumah lainnya yang umum dilakukan istri kalau di rumah.

Namun, bedanya di setiap pekerjaan rumah yang dilakukannya istri saya selalu menyertinya dengan berdzikir. Misalnya menyapu, satu kali ayunan = 1 x istighfar, nah berapa kali dia mengayun sapu, sejumlah itulah istighfarnya. Kadang juga tasbih atau takbir.

Dilain waktu selama memasak tidak lupa dia selalu mendahului dengan bermunajat “Ya Allah jadikanlah masakan ini menyehatkan dan menyenangkan orang yang makan”

Jika bikin minum untuk saya atau untuk tamu juga dia dahului dengan berdoa.

Berarti, selama ini istri saya dzikir tidak pernah berhenti meskipun tidak sedang di atas sajadah. Kemudian, saya tanya lagi kepadanya.

“Sejak kapan dzikir sambil mengerjakan pekerjaan rumah, kamu lakukan dik?” tanya saya.

Dia bilang, “Sejak SMP”  jawabnya singkat sambil meneruskan pekerjaannya mencuci piring.

Bahkan katanya selama dalam perjalanan dari rumah ke sekolah dan kembali ke rumah, tidak lepas berdzikir di dalam hati.

Pantaslah dia bisa melebihi anggota majelis dzikir yang lain disebabkan tabungan dzikirnya sudah sangat banyak.

Sejak itulah saya tidak lagi penasaran sama istri saya, dan mengakui bahwa apa yang dia lakukan susah untuk disamai.

Dilain waktu, dia juga bercerita bahwa selama mengandung dan menyusui anak-anak kami waktu bayi, tidak lupa dia ajak anak dalam kandungannya berdoa. Jika sedang menyusui setiap usapan ke dadanya agar ASI lebih banyak keluar dia iringi dengan dzikir untuk setiap usapan. Allahu Akbar.

Alhamdulillah saya mendapatkan jodoh sebagaimana istriku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s