Sejak jaman dahulu kala, adalah sesuatu hal yang LAZIM,  adanya tuduhan terhadap suatu agama / kepercayaan tertentu dari suatu golongan mayoritas kepada golongan minoritas.  

Rasulullah SAW sendiri juga selama berdakwah di Mekkah selama lebih kurang 10 tahunan (sebelum hijrah ke Madinah pada abad 622 M, sumber id-wiki) mengalami tuduhan menyebarkan hasutan, ajaran sesat dan ingin menghancur ajaran / kepercayaan yang telah dianut oleh sebagian besar penduduk Mekah saat itu.

Sikap dan Tindakan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah pada saat itu adalah mirip dengan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat ini, kalau tidak boleh dikatakan sama, dengan kaum jahiliyah Mekah.

Apa ???         Sabar…….dulu saudaraku. Mari kita cermati beberapa hal berikut ini.

Rasulullah SAW dianggap sesat karena ajaran yang disampaikannya berbeda. Kesimpulan berbeda ini berdasarkan OBSERVASI / SAKSI dan WAWANCARA langsung terhadap Beliau SAW langsung maupun terhadap sahabat yang menjadi pengikut Rasulullah SAW.

Sementara itu para sahabat yang berhasil di tangkap, diancam dan disiksa agar mundur dari ajaran yang dibawa Rasulullah SAW tetap bersikukuh dan bertahan, meskipun siksaannya sangat luar biasa kejamnya. Namun usaha kekerasan ini gagal membendung meluasnya ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.

Karena gagal, maka cara lain ditempuh. Silahkan perhatikan Asbabun Nuzul QS Al Lahab dan artinya, (khususnya istrinya Abu Lahab yang digambarkan secara halus kekejiannya di dalam Al Quran sebagai) sebagai berikut:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”

“Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”

“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.”

” Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar”

“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Apa sih maknanya pembawa kayu bakar ?

Untuk memahami artinya, perlu kita telaah apa yang dilakukan istri Abu Lahab ini yang nama aslinya adalah Auraa’ binti Harb bin Umayyah, suadara perempuan Abu Sufyan. Muncul satu pertanyaan, musuh Rasulullah SAW selain Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan, terdapat banyak tokoh lainnya. Namun, hanya satu yang khusus perlu disebutkan di dalam Al Qur an yaitu Abu Lahab dan khususnya Istrinya.

Nah menurut beberapa hadist, Auraa’ atau dikenal dengan nama Ummu Jamil ini pekerjaannya adalah memasang duri-duri dan batu-batu di jalanan yang akan dilalui oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan sahabat dan bahkan di depan pintu rumah beliau SAW. Bersama suaminya menawarkan hadiah uang pada siapa saja yang dapat membunuh Nabi SAW.

Selama perenungan-perenungan terhadap ayat di atas, pernah dalam tafakur dipahamkan bahwa yang dilakukan oleh Auraa’ / Ummu Jamil adalah mendatangi rumah penduduk Mekkah satu per satu dan menyebarkan berita fitnah / persepsi negatif untuk menimbulkan kebencian pada para penduduk Mekkah. 

Yang dimaksud dengan kata “menyebarkan” diatas adalah tindakan membujuk orang lain dengan disertai ancaman dan paksaan untuk menceritakan kembali berita fitnah tersebut kepada siapa saja.

Hingga muncul perasaan ngeri dan pilu yang mendalam dalam hati mengingat “apa yang dipahamkan tersebut”. Wallahu’alam bissawab.

Kembali ke dalam masalah Aliran Sesat, bahwa penyaksian dan wawancara pada dasarnya dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan, namun dalam masalah AGAMA, kadang ada beberapa hal yang kadang tidak tepat / tidak pas jika menggunakan metode di atas. Untuk itu, di Islam dikenal dengan istilah SHOLAT ISTIKHARAH untuk memohon petunjuk langsung kepada Allahu Ta’ala mengenai persoalan-persoalan pelik yang muncul.

Kenapa harus petunjuk Allah Ta’ala?

Kadang dan mungkin sering terjadi, apa yang dilihat dengan hakikat yang dikandung dari apa yang nampak bertolak belakang. Ingat kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ?

Kadang dan mungkin sering terjadi, wawancara yang dilakukan berubah menjadi suatu perdebatan dengan pengajuan dalil dari masing-masing pihak. Apabila suatu perdebatan terjadi maka sangat wajar bila terjadi apa yang disebut sebagai LOGICAL FALLACY, yang arti sederhananya adalah KESESATAN LOGIKA, meskipun hal itu tidak dilakukan secara sengaja.

Silahkan pelajari mengenai One Dimensional Thinking, dan Logical Fallacy, setelah itu, silahkan menonton acara televisi mengenai DEBAT, OBROLAN, GOSSIP, PERBINCANGAN, dan sejenisnya. Anda juga bisa membuka website tentang debat Agama. Saudaraku sesama muslim, hindarilah debat cukup katakanlah Lakum Dinukum Waliyadin, gantilah dalil perdebatan dengan bukti-bukti “nyata” / empiris / ilmiah, setelah itu tinggalkanlah. 

Dan jangan lupa lihat berita politik dan DPR RI juga.

Perdebatan adalah budaya Romawi kuno sebelum Kristen masuk ke Emporium Romawi, silahkan googling dengan keyword “Mithraism”.

Di televisi rata-rata, pembawa acaranya adalah wanita cantik dan memiliki kedudukan sosial yang baik di mata masyarakat.

Demikian juga Ummu Jamil, seorang wanita cantik, kaya, dan istri dari salah satu Tokoh Penduduk Mekkah dari Klan Besar !

Na’udzubillahi min dzalik! Na’udzubillahi min dzalik.

Jika One Dimensional Thinking & Logical Fallacy “digunakan” maka FITNAH akan terjadi dengan sendirinya, disadari atau tidak disadari.

Oh pemimpin bangsa kendalikanlah dirimu.

Ulama-ulama jaman dulu, sangat menahan diri untuk mengeluarkan pendapat. Ulama sekarang mengobral pendapat.

Ulama jaman dahulu hidup sederhana dan kurus karena seringnya berpuasa. Ulama jaman sekarang perutnya gendut dan bermewah-mewah. (enak sih…sorry coi..ane milih hidup mewah. Ane cinta Rasul…tapi ane ngga suka hidup seperti Rasul … menderita!)

Biasanya ulama / sufi jaman dulu akan, mengurung diri ke dalam kamar pribadinya, melakukan Sholat dan Dzikir sebelum mengeluarkan fatwa, berhari-hari dan berminggu-minggu, mengandalkan petunjuk Allah Ta’ala dibandingkan mengeluarkan pendapat pribadi.

Marilah kita kembali kepada apa yang dianjurkan Rasulullah Shalallahu wa salam, perbanyak dzikir, ber tafakur dan ber istikharoh. Ikutilah sunnahnya nabiyyil umiyy. Sangat dahsyat dan indah, saudaraku.

Semua petunjuk yang datang dari Allah melalui lintasan hati silahkan dicross-check terlebih dahulu kepada Al Quran dan Sunnah. Saatnya anda gunakan “iqra bil kitab” setelah anda selesai “diperjalankan di alam Iqra bismi rabikkaladzi khalaq..”

“Ya Allah, mohon ditunjukkan apa yang Haq adalah yang Haq dan yang Batil adalah yang Batil”

Panjatkanlah permohonan kita selama beberapa hari atau beberapa minggu atau kalau perlu hingga beberapa bulan sehingga petunjuk Allah akan “membawa penerangan” bagi diri kita.  

Innallaha ma’a shabirin ………………………………………………………………………………………

Haqqul Yakin ………………………………………………………………………………………….

Jangan Kawatir …………………………………………………………………………….

Ketetapan Allah pasti benar adanya………………………………….

Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memberikan ujian untuk menguji “kualitas keimanannya”, “kualitas cintanya”, “kualitas Lillahi Ta’alanya”..

Barakah Allah “mahal harganya” tidak cukup dengan sekedar menjalankan syariat semata, perlu dilengkapi dengan “JIHAD KUBRO” untuk mendapatkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sepulang bersama Para Pejuang Badr!!!

Allahu Akbar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s